Pada musim-musim yang berganti, ada hal yang tetap harus diperjuangkan
Selamat Malam. Hari ini aku menemuimu lagi, Blog memang teman yang nyaman untuk menuliskan segala kisah, haru sendu tawa, pernyataan pertanyaan dan jawaban. Kau tahu mengapa? karena blog ini sepi dan tak pernah terbaca kecuali pemiliknya. wkwkwkwkwk :)
Tahun sudah berganti, dimana pada akhirnya cerita telah berganti. Kelegaan sudah terjawab, tentang seonggok harap yang dianggap takdir dimasa lalu. Cerita sudah berganti. Lebih baik, harusnya bisa lebih sederhana. Karena urusan perasaan sebenarnya memang sederhana, kita yang terkadang membuat itu menjadi berbeda, pun perasaan membutuhkan sudut pandang yang berbeda.
Pada keadaan dimasa lalu yang terbawa sampai hari ini, ternyata sulit sekali memegang intisari kebahagiaan dalam kebersamaan; bahwa sebenarnya hubungan adalah proses menuju pribadi yang lebih baik, saling mengingatkan, saling menasehati sambil terus menunggu waktu yang tepat dimana kondisi menjadi lebih baik dan mencapai stage selanjutnya. Harusnya tak lebih, tapi sekuat apapun seseorang memegang komitmen sebatas menjaga itu, nyatanya hubungan tidak sesederhana itu. secara pribadi aku tak sanggup. Ada rasa marah tentang kecemburuan, ada rasa sedih ketika pada akhirnya dia marah. Bahwa ternyata waktu memakan komitmen untuk 'sekedar' menjalani hubungan dengan memegang intisari yang seharusnya. Tidak bisa, aku tidak bisa.
Pada akhirnya cerita sebenar-benarnya telah berakhir lalu. Kesalahan sama yang nyatanya terulang lagi, namun ada cerita berbeda, setidaknya kali ini adasebuah kesempatan, meski sepenggal frasa seringkali keluar: "mungkin kita bisa berteman dulu", "aku sedang tak memikirkan urusan perasaan", "Lagi pengen sendiri dulu". Aku sebenarnya tahu, tapi sebisa mungkin tak akan tahu, aku lebih memilih pura-pura bodoh dan tak mengerti saja. Lagipula buat apa merisaukan pernyataan-pernyataan seperti itu, bila membersamainya bisa membuatnya bahagia, bila kemudian nyatanya frasa-frasa itu membahagiakan untuknya. Aku jadi teringat nasehat sahabatku, Pemuda Puisi: "Bahagiaku adalah melihat orang yang aku cintai bahagia" Ah, kisahku tak seheroik Pemuda Puisi
Kisahnya, Pemuda Puisi memiliki seorang teman wanita yang begitu dekat. Amat dekat. Hubungan?
"Jika maksudmu pacar jelas bukan, aku sudah berulangkali bilang padanya dan jawabannya selalu sama: untuk apa aku jadi pacarmu, berteman seperti ini membuatku lebih bahagia. Maaf ya" ucapnya menjelaskan padaku suatu waktu. Tapi pemuda puisi bukan orang yang bisa kemudian pindah kelain hati. Sepanjang aku mengenalnya hanya satu wanita itu yang dekat dengannya. Selayaknya orang yang saling mencintai dipermukaan, tapi nyatanya entah. Pemuda Puisi benar-benar sosok yang bisa diandalkan. Kemanapun si wanita akan pergi, Pemuda Puisi pastilah ada didepannya untuk mengantarkan. Sampai suatu ketika, di akhir pekan yang cerah si Wanita meminta Pemuda Puisi mengantarkannya ke tempat wisata. Seharian mereka menghabiskan waktu, Pemuda Puisi menjemput si Wanita di pagi hari dan menghantarkannya pulang kerumah selepas Isya.
"Tak ada tanda apa-apa di rumahnya ketika aku menghantarkannya pulang" Jelas Pemuda Puisi padaku. Maka di Minggu pagi-satu hari tepat setelah mereka menghabiskan waktu bersama-di smslah pemuda puisi:
Hey, bisakah kamu main kerumah hari ini?
Bisa saja, ada apa?
Mainlah kerumah
Baik-baik, tumben kau memaksa seperti ini, hey nanti siang bakal panas lho, nanti sore saja ya?
Datanglah pagi ini, Mas.
Baik-baik sebenarnya ada apa?
Aku akan melaksanakan ijab pernikahan dirumah, setidaknya sudilah Mas datang. Maaf mendadak dan undangannya hanya lewat SMS :)
Datanglah Pemuda Puisi kerumah Wanita itu, Entah kekuatan apa yang merasuki Pemuda Puisi saat itu sehingga saat pernikahan tak ada derai air mata layaknya sinetron yang mengharu-biru.
"Aku hanya bisa tersenyum menerima kenyataan yang ada, aku sudah melakukan bagianku untuk membahagiakan dia dengan segala caraku. Aku sudah melakukan peranku sebagai teman yang membahagiakannya, Kau jangan lupa dia menganggapku apa tadi! jika ternyata Tuhan tidak menghadiahkan dia kepadaku sebagai jodoh, maka aku harap Tuhan berkenan menghadiahkan pada dirinya orang yang lebih baik daripada aku untuk melanjutkan kebahagiaannya"
"Aku doakan semoga kamu tidak perlu mengalami cerita yang sama sepertiku" pungkas cerita Pemuda Puisi.
Hey Pemuda Puisi, terimakasih engkau telah menghadiahkan cerita yang membuatku merasa lebih baik. Jadi aku akan melakukan hal yang sama denganmu, bahwa kebahagiaan adalah melihat dia bahagia dengan caranya. Bahwa kita hanya harus membunuh sebuah keegoisan yang bernama pengakuan atas sebuah hubungan. Tak apa menjadi sekedar teman, bila kemudian itu bisa mengekalkan kebahagiaan untukmu. Hey, akan aku upayakan agar kebahagiahaan selalu dekat denganmu, Ima Noor Sa'adah :)

No comments:
Post a Comment