Abaikan tulisan ini beserta pemiliknya,
tetaplah tersenyum.
hal itu yang tak mampu hadirkan saat aku membersamaimu
memandangimu. mebuatku kehilangan kata-kata. perlahan kuhentikan sejenak pandanganku. Ini semua pasti tentang waktu. tentang pendewasaan dan (masih) tentang harapan itu. Aku sadar kalau aku terlalu menjijikkan. sangat menjijikkan. Apa yang aku punya, dan apa yang hendak aku berikan. Dewasa ini seseorang berpikir tentang kehidupan dan penghidupan. beberapa bagian tentu tak lepas dari genggaman dan ingatan. Karenanya, aku sangat menyedihkan
apalagi yang harus aku tuliskan. Andai bulir-bulir ini mampu dikristalkan menjadi bait dalam kertas, aku akan menyimpannya untukmu. Sebagai kenangan saja, tidak lebih. Hanya karena aku memang seorang pencundang yang tak memiliki kelebihan suatu apapun. Mungkin Tuhan menakdirkanku sebagai itu. Pecundang.
Sekali lagi selamat, dirimu berhasil membuatku tak berkata. diksi-diksi dikepala lenyap dalam sekejap, mengalir dalam pikiran kosong. yah, harus menuliskan apa lagi?? Kesalahan telah menghukumku atas nama masa lalu.
Bila toh memang tak ada pilihan yang mampu kau hadirkan, biarkan pecundang ini membuat pilihan dengan terus mendoakanmu. Karena itulah kesungguhan yang aku punya. Engkau layak bahagia, siapapun orangnya. berbahagialah, tulisan ini biar mereka baca sebagai warna-warni dunia. :)

No comments:
Post a Comment