Tuesday, October 13, 2015

Sudah lelahkah?

Sudah lelahkah dirimu menutup diri hingga membiarkan segalanya terlihat? Sebegitu pahamkah? Atau itu memang tuntutan pekerjaan?

Andai aku boleh meminta kepada Tuhan untuk mengulang waktu barang sejenak, aku ingin meminta kita tiada pernah bertemu. Agar aku tak mengubahmu sedemikian rupa. Agar kamu tetap menjadi anggun tanpa merubah tampilan fisikmu. Agar kamu tetap menjadi cantik tanpa harus meninggalkan syariat yang kamu pegang kuat-kuat. Agar kamu tetap menjadi wanita yang dicintai tanpa harus memperlihatkan hal yang selama ini kamu (jaga) agar tertutup rapat.

Jilbabmu adalah kebanggaan yang dulu bisa menjadikanmu berbeda dengan wanita lain. Tidak besar, namun selalu menutupi bagian dadamu. Komitmenmu dulu kuat, dan aku sangat yakin dan bersemangat bahwa kelak sampai kapanpun kamu pasti bisa menjaga cara berpakaian seperti itu. Bukankah mengenakan jilbab fungsinya ialah untuk menjaga aurat? Menghindarkan segala syahwat dari lawan jenis.

Aku tidak tahu apapun tentang fashion. Cara berpakaianku-pun tidaklah modis kalau tidak malah disebut kampungan. Baju-bajuku tidaklah bagus kecuali dua potong yang kamu beri, itu adalah pakaian termahal diantara baju-bajuku di lemari. Maka ketahuilah, aku ingin kamu mengenakan jilbab seperti dulu. Sebagaimana yang kamu tunjukkan kepadaku dulu, tanpa perlu melipat ujung-ujungnya hingga memerlihatkan dada. Apa yang demikian adalah fashion yang membuatmu menawan?

Kesalahanku karena turut serta menjadikannya seperti ini. Maka, Rabb-ku yang welas asih, jangan kamu hitung dosa atas apa yang ia lakukan dengan jilbabnya saat ini. Timpakanlah kepadaku karena kalaulah ada orang yang bertanggungjawab atas perubahan yang dia alami dari jilbabnya, orang yang pantas disalahkan adalah aku. Kalaulah mungkin tiada pertemuan yang terjadi, pastilah saat ini ia menjalani hidup yang taat tanpa perlu merubah prinsip yang ia pegang kuat-kuat. Duhai Rabb yang Maha Mengetahui, berikanlah kembali kepadanya pemahaman yang baik. Aku berjanji akan terus mendoakannya agar kelak dimasa yang akan datang ia mendapatkan laki-laki yang benar-benar baik; lahir dan batin. Bukan yang nampak baik tapi busuk sepertiku. Karena sungguh, akulah yang merusak segala kebaikan yang telah ia punya tanpa sisa.

Jika kelak kamu tak sengaja membaca tulisan ini, aku minta maaf karena menuliskan segala sesuatunya disini. Kamu tahu? Aku memang tak lagi pantas untuk kamu cintai, aku hanyalah lelaki busuk dengan masa depan yang belum pasti. Tapi ijinkanlah beberapa waktu untukku peduli. Mohon maaf karena tidak menyampaikannya kepadamu secara langsung, karena itu pasti akan menyakitkanmu, dan aku tidak tahu apa alasanmu, hingga nampak aku seperti men-judge mu. Bukankah itu hal yang tidak kamu suka? Maka biarlah kesahku tertuang dalam tulisan ini. Mohon maaf dengan sangat jika tulisan ini tidak mengenakkanmu. Tenang saja, pembaca blog ini hanya aku kok :)

Wednesday, September 9, 2015

Tuesday, June 2, 2015

Tentang tawa



Ima Last Moment

Hari ini aku bahagia. Bahagia karena bisa tulus melepasmu saat kebencianmu terhadapku mencapai titik puncak. Kau tau, dengan begitu doa-doaku akan terpanjat dengan ikhlas ke hadirat Illahi Rabbi. Setidaknya hal ini jelas, aku tak memerlukan pengharapan apa lagi, aku hanya berdoa sebagai bagian dari doa, konstanta bernilai untaian kebaikan teruntuk dirimu, kalau sebelumnya terbesit harapan agar sesekali Tuhan berbaik hati menghampirkan engkau dalam kesempatan lain, maka kali ini tidak. Dengan demikian doaku hanya doa. Bukan pengharapan. Hari ini aku bahagia karena akan mencintaimu dalam senyap kebutaan. Mencintai dengan kekuatan doa-doa kebaikan untukmu. Semoga dengan demikian kamu paham, sebab hal inilah yang dilakukan seseorang dimasalalu kepadaku. Selamat mencoba, larilah, lupakanlah, biar kutemani dirimu dalam senyap yang tak pernah kau tahu, dalam untaian doa yang tidak ada lagi tendensi pengharapan; segalanya hanya tentang kebaikanmu.

(untitled)

Selamat pagi, hari ini aku menulis lagi. Buat apa? karena lebih baik aku pikir menulis memang baik, sederhana bukan? ah terkadang hidup memang seperti itu bukan? pun sebenarnya perasaan, hanya masalah sudut pandang saja.

Ada Frasa: "Kamu tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kamu terlalu mencintainya" Aku membenarkan sepotong kalimat itu, karena memang ketika terlalu mencintai artinya mungkin terlalu obsesif terhadap sesuatu yang ujung-ujungnya bisa membuat segalanya menjadi lebih runyam. Obsesif adalah bagian dari sifat marah dalam kadar yang terstruktur rapi. Manakala tak tercapai, terlarutlah perasaan, dari senang menjadi sedih. 

Terlalu mencintai itu menyakitkan, bukan? setidaknya pengalaman lalu telah berbicara. Adakalanya kita berharap lebih pada seseorang, namun orang tersebut menganggapnya biasa saja. Entah bagaimana bisa, mungkin ia merasa jenuh? Kenapa sulit sekali

Monday, June 1, 2015

New Season

Pada musim-musim yang berganti, ada hal yang tetap harus diperjuangkan