Tuesday, June 2, 2015

Tentang tawa



Ima Last Moment

Hari ini aku bahagia. Bahagia karena bisa tulus melepasmu saat kebencianmu terhadapku mencapai titik puncak. Kau tau, dengan begitu doa-doaku akan terpanjat dengan ikhlas ke hadirat Illahi Rabbi. Setidaknya hal ini jelas, aku tak memerlukan pengharapan apa lagi, aku hanya berdoa sebagai bagian dari doa, konstanta bernilai untaian kebaikan teruntuk dirimu, kalau sebelumnya terbesit harapan agar sesekali Tuhan berbaik hati menghampirkan engkau dalam kesempatan lain, maka kali ini tidak. Dengan demikian doaku hanya doa. Bukan pengharapan. Hari ini aku bahagia karena akan mencintaimu dalam senyap kebutaan. Mencintai dengan kekuatan doa-doa kebaikan untukmu. Semoga dengan demikian kamu paham, sebab hal inilah yang dilakukan seseorang dimasalalu kepadaku. Selamat mencoba, larilah, lupakanlah, biar kutemani dirimu dalam senyap yang tak pernah kau tahu, dalam untaian doa yang tidak ada lagi tendensi pengharapan; segalanya hanya tentang kebaikanmu.

(untitled)

Selamat pagi, hari ini aku menulis lagi. Buat apa? karena lebih baik aku pikir menulis memang baik, sederhana bukan? ah terkadang hidup memang seperti itu bukan? pun sebenarnya perasaan, hanya masalah sudut pandang saja.

Ada Frasa: "Kamu tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kamu terlalu mencintainya" Aku membenarkan sepotong kalimat itu, karena memang ketika terlalu mencintai artinya mungkin terlalu obsesif terhadap sesuatu yang ujung-ujungnya bisa membuat segalanya menjadi lebih runyam. Obsesif adalah bagian dari sifat marah dalam kadar yang terstruktur rapi. Manakala tak tercapai, terlarutlah perasaan, dari senang menjadi sedih. 

Terlalu mencintai itu menyakitkan, bukan? setidaknya pengalaman lalu telah berbicara. Adakalanya kita berharap lebih pada seseorang, namun orang tersebut menganggapnya biasa saja. Entah bagaimana bisa, mungkin ia merasa jenuh? Kenapa sulit sekali

Monday, June 1, 2015

New Season

Pada musim-musim yang berganti, ada hal yang tetap harus diperjuangkan