Tidak mudah. Tidak mudah, terlalu tidak mudah
Tidak mudah, tidak seperti biasanya. Tapi perlahan aku mulai merenung. Lebih baik bercerita ditempat ini, lorong yang sunyi, lengang, dan tak ada yang tahu. Haha, kadang memiliki laman kosong dengan fasilitas pihak ketiga terasa lebih menguntungkan, semacam privasi rahasia mungkin ya? Toh kehidupan tetap saja kehidupan, lambat laun pasti semua tahum karena pada dasarnya semua orang bisa belajar, kan?
Sore itu indah, tak ada yang menampiknya. Waktu-waktu dimana matahari kembali, menyisakan cahaya jingga diatas mega pada tepi barat. Indah memang, tapi tak mungkin untuk membawanya pulang, memasukkannya kedalam kamar untuk dinikmati. Bukan pada ketidakmungkinannya, tapi matahari tentu masih punya khalayak banyak. Tak adalagi sore yang indah tanpa matahari. Bisa jadi engkau menang dan tersenyum sepanjang hari, tapi jika demikian adanya pernahkan kau tanyakan bagaimana perasaan matahari dan orang-orang yang menikmati sore?
Terlalu egois memang, aku sadar. Kebahagiaanmu adalah apa yang akan selalu aku upayakan. Tapi sayangnya aku sering lupa, kebahagiaan tak melulu berasal dariku, seberapa kuatpun aku mengusahakannya untukmu. Aku lupa bahwa engkau juga bisa menciptakan bahagiamu, sama seperti saat kau mengukir pahatan-pahatan diatas tanah liat itu. Engkau membuat soremu laksana malam yang menyala merah. Dan aku memadamkan merah itu dengan sebuah cat air berwarna hitam. Bukan dalam upaya membahagiakanmu, tapi justru memukul telak makna bahagiamu saat itu. Maaf.
Satu-satunya hal yang masih tersisa tentang kebaghagiaanmu adalah usahaku. Biarkan waktu membiaskan cara untukmu bahagia, karena dari sini aku akan memandangmu, dibawah guyuran cahaya merah merona pada sore di padang yang luas. Terimakasih derisa, berbahagialah dengan caramu.

No comments:
Post a Comment