SERIAL: TANYAKAN SAJA PADA ANGIN
Aku tidak begitu pandai mengendalikan waktu. Tak ada
perubahan signifikan atas semua yang telah terjadi, engkau tahu, terkadang aku
sangat rindu. Sangat. Namun aku rasa ini bukan waktunya, bukan lagi
momentumnya. Sejurus kemudian aku sudah mendapati kopi yang aku sedu menjadi
dingin. Nampaknya aku terlalu lama memikirkanmu, sampai-sampai aku tak sempat
menikmati kenikmatan hangatnya segelas kopi. Aku hela nafas panjang, berharap
engkau segera datang.
Lagi-lagi pikiranku selalu tentangmu, keinginanku selalu
memikirkanmu adalah hal yang selalu merambat naik semenjak kita tak bersama. Aku
yakin engkau tahu itu. Kembali aku hanya termenung mendapati semut-semut
beranjak naik menuju gelas yang berisi kopi dingin. Keinginanku bersamamu
sepertinya sudah berhasil menyingkirkan batas-batas realitas, tapi sebenarnya
itu hanya ada dalam pikiran. Beradu dalam otak seperti keduanya sedang
bertinju. Namun kenyataannya, aku tak pernah mewujudkan cara apapun agar engkau
kembali.
***
Suasana dingin kembali menerjang. Memang malam selalu dingin
dan gelap, namun untungnya jalan pulang ini belum pernah kita lewati bersama. Beberapa
kali saat aku melewati beberapa bangunan yang mirip, otakku selalu menyimpan
setiap kejadian di tempat yang sama. Nampaknya terlalu sulit menghapuskan
segalanya tentangmu. Seperti saat mataku melewati areal persawahan, bayangan
tentang celotehmu untuk mengajak melihat sore masih bergema di telinga hingga
sekarang. Untungnya ini malam, dan itu membuatku tersenyum. Hmm, terkadang bisa
jadi aku lupa, saat aku tertawa, namun setelahnya tak ada lagi bagian-bagian
yang lepas. Mungkinkah seharusnya aku menertawakan diri sendiri? Agar aku lupa
diriku. Berharap dalam berat, menelusur dalam kajian yang tak berkesudahan.
Saat ini aku masih ditemani secangkir kopi yang dinikmati
bersama-sama gerombolan teman baruku; semut. Aku perhatikan betapa baiknya
mereka menemaniku malam ini. Mereka bahu membahu menghabiskan kopi hitam, entah
berapa puluh jumlah mereka sekarang. Bagiku mereka cukup aneh, rela mati
ditengah gula. Sepertinya mereka tengah mengajariku sesuatu malam ini. Aku dengar
mereka berbisik satu diantaranya. Menyuarakan beberapa cerita.
Dari cerita-cerita yang mereka buat, aku mulai paham, bahwa
kita tak perlu takut kehilangan. Pikirkan saja esok, dan lakukan saja hari ini.
Setidaknya itu yang membuat semut tak takut mati saat menghirup kopi. Nampaknya
benar, kopiku mulai hangat kembali dan aku tak lagi melihat mereka minum kopi.

No comments:
Post a Comment