Monday, February 3, 2014

Epilog kopi (bagian 1)


SERIAL: TANYAKAN SAJA PADA ANGIN 

Aku tidak begitu pandai mengendalikan waktu. Tak ada perubahan signifikan atas semua yang telah terjadi, engkau tahu, terkadang aku sangat rindu. Sangat. Namun aku rasa ini bukan waktunya, bukan lagi momentumnya. Sejurus kemudian aku sudah mendapati kopi yang aku sedu menjadi dingin. Nampaknya aku terlalu lama memikirkanmu, sampai-sampai aku tak sempat menikmati kenikmatan hangatnya segelas kopi. Aku hela nafas panjang, berharap engkau segera datang. 

Lagi-lagi pikiranku selalu tentangmu, keinginanku selalu memikirkanmu adalah hal yang selalu merambat naik semenjak kita tak bersama. Aku yakin engkau tahu itu. Kembali aku hanya termenung mendapati semut-semut beranjak naik menuju gelas yang berisi kopi dingin. Keinginanku bersamamu sepertinya sudah berhasil menyingkirkan batas-batas realitas, tapi sebenarnya itu hanya ada dalam pikiran. Beradu dalam otak seperti keduanya sedang bertinju. Namun kenyataannya, aku tak pernah mewujudkan cara apapun agar engkau kembali.
***
Suasana dingin kembali menerjang. Memang malam selalu dingin dan gelap, namun untungnya jalan pulang ini belum pernah kita lewati bersama. Beberapa kali saat aku melewati beberapa bangunan yang mirip, otakku selalu menyimpan setiap kejadian di tempat yang sama. Nampaknya terlalu sulit menghapuskan segalanya tentangmu. Seperti saat mataku melewati areal persawahan, bayangan tentang celotehmu untuk mengajak melihat sore masih bergema di telinga hingga sekarang. Untungnya ini malam, dan itu membuatku tersenyum. Hmm, terkadang bisa jadi aku lupa, saat aku tertawa, namun setelahnya tak ada lagi bagian-bagian yang lepas. Mungkinkah seharusnya aku menertawakan diri sendiri? Agar aku lupa diriku. Berharap dalam berat, menelusur dalam kajian yang tak berkesudahan.

Saat ini aku masih ditemani secangkir kopi yang dinikmati bersama-sama gerombolan teman baruku; semut. Aku perhatikan betapa baiknya mereka menemaniku malam ini. Mereka bahu membahu menghabiskan kopi hitam, entah berapa puluh jumlah mereka sekarang. Bagiku mereka cukup aneh, rela mati ditengah gula. Sepertinya mereka tengah mengajariku sesuatu malam ini. Aku dengar mereka berbisik satu diantaranya. Menyuarakan beberapa cerita.

Dari cerita-cerita yang mereka buat, aku mulai paham, bahwa kita tak perlu takut kehilangan. Pikirkan saja esok, dan lakukan saja hari ini. Setidaknya itu yang membuat semut tak takut mati saat menghirup kopi. Nampaknya benar, kopiku mulai hangat kembali dan aku tak lagi melihat mereka minum kopi.

No comments:

Post a Comment