Wednesday, September 9, 2015

Lini Masa (II)

Cerita tentang lini masa yang terjadi untuk keduakali


Itu hari sabtu; malam minggu, kala dua gelas kopi kita bertemu. Kamu dengan es mocachino dan aku bersama kopi spesial semesta. Ditemani awan yang mulai menghitam, dan bebintangan yang tersamarkan lampu-lampu kekuningan, kita mulai bercerita, berbagi kata tentang apapun yang kita ingin bicarakan, kita bincangkan. Aku merasa berhutangbudi pada waktu, karena selama hampir sesore itu ia memberiku ruang-ruang kebahagiaan; kesempatan bersitatap empat mata denganmu. Berbagi kopi dan suara.
Lalu, mulailah dirimu bercerita dengan bahagia, dengan senyuman yang mempesona, senyuman yang dalam waktu belakangan nampak hilang dari peredarannya. Kamu terus bercerita, aku tak terlalu pandai bersuara dan membagi kata kala itu. Aku asik dan masyuk mendengarkan dengan seksama; memberi tanggapan seperlunya, dan aku tahu bahwa kehidupanmu setelah kejadian itu baik-baik saja. Kamu memilih menyibukkan diri, menyakini jalan terbaik yang membuatmu bahagia, hingga sampailah pada rangkaian-rangkaian kalimat yang membuat bulu kudukku merinding. Mmm Lancar, Nggak tau ya, Alhamdulillah, semuanya itu seperti lancar-lancar aja, Bang. Semuanya terasa mudah, nggak tau juga deh, mungkin emang segala dimudahin sama Allah.
Betapa setelah aku mendengar kalimat itu, ingin rasanya aku melompat, menari-nari seperti anak kecil yang mendapatkan sebuah permen yang diberikan oleh orang tuanya, betapa aku senang bukan kepalang, ternyata Ia masih bermurah hati mendengarku. 

***

Pagi dini hari itu, tumpah segala hal yang ingin aku ceritakan. Aku merasa sama sekali tak butuh nasehat, petuah, atau balasan ketika aku bercerita, aku hanya ingin bercerita, maka dingin udara menjadi saksi, lantai-lantai menjadi saksi, langit-langit kamar menjadi saksi, mereka takzim mendengar aku bercerita, pun Kamu. Aku pikir Kamu adalah sebaik-baiknya tempatku bercerita. Aku tak butuh nasehat, aku tak butuh petuah ataupun balasan ketika aku bercerita, pagi itu aku hanya ingin bercerita, hanya bercerita, mengadu dan mengeluh.

***

Malam itu kita bertengkar hebat. Aku yang sok-sok-an peduli melihatmu yang sedikit berubah, mulailah aku menasehatimu tanpa pernah aku mengaca sebelumnya siapa diriku. Pertengakaran itu hebat, dengan segala keterbatasanku, pada akhirnya aku tak mampu menenangkanmu, aku kehabisan akal, kehabisan bentuk dan cara untuk menenangkanmu. Aku terlalu sombong dan pongah. Salahku terlalu fatal karena menasehatimu dengan segala bentuk kata yang menusuk, bahkan aku mengata-ngataimu dengan bahasa yang buruk, membandingkan dan entahlah segalanya menjadi menyebalkan dan aneh. Jadilah segala bentuk komunikasi menjadi terpisah, tak aku temui media untuk sekedar menyapamu. Apapun. Semua yang aku punya tak lagi bisa menyampaikan penjelasanku, kata-kataku, atau entahlah. Kamu memutus semua konunikasi denganku. Maka malam hari itu aku bertekad sepenuh hati, sebulat-bulatnya meneguhkan keyakinan. Aku akan membalas semua perbuatanmu itu dengan doa! Aku masih yakin dengan doa, karena hanya doa yang mampu aku miliki. Ya, aku akan membalasmu!

***

Aku sendiri yang membangun kebahagiaan buat diriku sendiri, semua kemudahan yg kamu liat itu adalah keputusanku. Kalau aku memutuskan utk nggak berbahagia, sangat mudah kulakukan. Aku bisa mengeluhkan semua hal yg terjadi di hidupku. Tapi aku memilih utk melihat segala sisi positif yg terjadi dalam hidupku..
Sementara kamu? Kamu membandingkan hidupku dengan hidupmu, hey, pernahkah kamu berfikir itu soal ketidakmampuanmu melihat sisi positif dari semua hal yg terjadi dalam hidupmu? Kamu sendiri yg menilai dirimu rendah, menilai dirimu dari nasab yg nggak baik, dan segudang kekecewaan terhadap dirimu sendiri.

**

Ya Allah, ya Rabb, ya muqallibul qulub, tautkanlah hati Halimah Nur Sa'adah kepada laki-laki yang kelak menjadi calon suaminya. Berikanlah kepadanya laki-laki yang baik, yang shalih, yang tampan, mapan dan berasal dari nasab yang baik. Karuniakanlah kepadanya anak-anak yang membahagiakan, yang menjadi generasi pembela jalan-Mu Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, lancarkanlah segala urusan Halimah Nur Sa'adah, Mudahkan segala urusan Halimah Nur Sa'adah. Ringankanlah segala urusan Halimah Nur Sa'dah, berikanlah Halimah Nur Sa'adah rezeki yang melimpah

***

Hey, ini hari rabu, sampai catatan ini selesai, adzan sudah memanggilku. Kamu pasti sudah menungguku bercerita. Kamu selalu hafal, dan pasti tahu, bahwa diakhir cerita aku akan berdoa kepada-Mu. Untuk Halimah Nur Saadah, jangan lupa berbahagia. Selalu berbahagia. Berbahagialah dengan pilihamu, dengan jalanmu, dengan jalan yang kamu upayakan.

No comments:

Post a Comment