Ini Kisah tentang persahabatan bulan dan bintang yang ditemani jarak dan manusia atas kerak bumi
Ceritanya ada sepasang bulan dan bintang yang muncul bersamaan di gelapnya malam. Sama-sama bercahaya. Mereka berdua selalu berjanji untuk mengisi malam-malam tanpa cahaya dengan pelita yang mereka pancarkan, tanpa maksud saling mengalahkan.Bulan dengan pantulan cahaya terkadang menutupi kerlip bintang yang kecil-hasil usahanya sendiri. Namun itu bukan halangan, berteman lekat dalam kesenangan cahaya.
Para penduduk kerak bumi tak pernah tahu apapun tentang cahaya kecuali dua hal, terang dan bersinar.Padahal bulan dan bintang yang tampil di lorong panjang malam,memiliki senggang. Jarak, lowongan dan sekat atas nama kehidupan cahaya.
Bintang dan bulan sama-sama memiliki kehidupan dan waktu untuk berputar. Merubah segala keadaan melalui upaya yang seringkali perlu dilakukan atas nama keinginan menjadi lebih baik. Bintang memiliki kehidupan lebih ceria, menghadapi hidup dengan terus berputar tanpa pernah berubah wujud, ia hanya berpindah dari sudut ke sudut, terkadang kembali. menatap keadaan di atas kerak bumi, apakah baik-baik saja. Turut pula menyapa sahabat baiknya,Bulan. Namun beberapa waktu ia tak menjumpai, dalam kondisi terbaik-saat purnama-. Bulan tidak menikmati hidupnya. Seperti yang kita tahu ia hanya memantulkan segala rupa bentuk cahaya matahari untuk memberi pandangan berupa sinar putih yang ditangkap penduduk kerak bumi. Sadar bahwa pertemanan selalu menghadapi pasang surut,bulan terkadang memilih menyepi, menikmati proses bulan baru-sabit-hingga purnama. Waktu selalu memberinya kesempatan, sadar bahwa jarak menjadi hambatan, takut cahaya pantulannya menutupi kerlip rembulan kecilnya. Bulan terkadang sering kita tangkap memakan dirinya sendiri, tak pernah utuh menampilkan rupa-rupa keelokandirinya.
Malam ini, kami penduduk atas kerak bumi menikmati siklus malam ke delapan belas dari apa yang bulan tampilkan. Mendapati bulan yang mengikis disaat bintang-bintang saling bertemu sesamanya membentuk garis imaji bernama rasi. Atas nama makhluk penikmat cahaya, kami hanya berharap agar malam kami tidak gelap. Bagaimanapun bulan dan bintang adalah komposisi persahabatan paling sempurna untuk malam-malam yang akan kami lalui setelah sore. Jika bintang kemudian menemukan rasi untuk menemani perjalanan waktu berpindah dari sudut ke sudut, maka bulan memiliki kami, manusia yang bertebaran diatas kerak bumi, yang senantiasa berharap bahwa selamanya ada tali erat yang mengikat agar bulan terus ikhlas memantulkan cahaya matahari untuk malam kami. Percayalah, Bulan dan bintang adalah komposisi yang bisa saling melengkapi, walau entahlah. Jarak, lowongan dan sekat atas nama kehidupan cahaya tak pernah kami tahu bagaimana rupa.

No comments:
Post a Comment