Bisakah kamu hidup setengah hati?
Mau mengambil apa lagi? Jika setengah
hatiku saja sudah kau bawa pergi, entah ingat atau tidak dimana
tempat menyimpannya. Kalau kita hidup dengan masing-masing setengah
hati, dan terus saja berkurang jika ada seseorang yang datang, bisa
jadi kedatanganmu yang kedua ini pasti bertujuan satu: menghabisi
hati yang tersisa.
Hari ini Engkau datang dengan wajah
sendu, beberapa bulir air mata menetes dari sudut mata itu. Mata yang
dulu selalu aku tatap, yang meneduhkan dikala segala penat membuncah
memenuhi kepala. Tapi mata itu kini sayu, memang tak ada lagi kantong
hitam dibawahnya, tapi sesuatu hal yang tak kunjung baik pasti
menghampirimu pada beberapa masa ini, entahlah aku seperti menjadi
rumah abadi bagi segala dukamu. Tempat pulang untuk segala tetes air
mata yang jatuh itu.
“Sisakan waktu untukku hari ini!”
ucapmu setengah membentak dengan suara parau.
Aku tersenyum mendapatimu. Bingung,
masihkah bisa aku pergi ke luar bersamamu hari ini dengan setengah
hati. Cuaca sedikit mendung, awan abu-abu menghalangi kilau keemasan
dilangit, sempurna menutupi keindahan sore hari.
“Kemana kita akan pergi?”
“Ke manapun engkau mau, kau tahu
perjalanan selalu menyenangkan buat kita diwaktu dulu”
“Ya, tapi itu dulu”
“Sudahlah, kau tak perlu banyak
ngeles, lama-lama kau ini lebih mirip lelaki kecil yang terlalu
sering bertanya: kenapa”
Ketus ucapmu membuatku terdiam. Segera,
beberapa marka jalan terlahap roda-roda motor yang berputar. Engkau
mendekapku erat. Terdengar beberapa isak tangismu yang bercampur
terpaan deru angin di telinga. Kamu tahu, perjalanan ini tak akan
mudah bagiku juga bagimu. Terlepas bahwa kita hidup di hari ini, dan
kenangan hidup dimasa lalu, nyatanya kita disini tengah menghabisi
segala bentuk perputaran waktu. Dan fakta bahwa hatiku tinggal
separuh itu nyata, entah terpikir atau tidak olehmu.
Kita membagi jalan dan mengakhirinya
dengan cara yang tidak patut untuk diingat hingga saat ini. Kau tahu,
mengetahui bahwa kau terluka karenaku rasanya jauh lebih menyakitkan
dari segala bentuk sumpah serapah dan makian yang terucap dari
mulutmu. Gila. Kala itu tak terbesit sedikitpun untuk memikirkan
akibat dari ucapanku. Aku merasa muak dengan segala sikap diammu,
yang katanya bagian dari surprise kala itu. Keadaan terlanjur kalut,
kita bertukar hujatan, membagi segala bentuk kata berwujud
penghinaan. Tapi kau tak pernah tahu, waktu berlangsung begitu
menyesakkan bagiku. Wujud cintaku terbatas dalam doa. Mau apa lagi?
Aku sempat berencana langsung melamarmu dalam kurun tiga bulan
terakhir ini, tapi urung. Mana mungkin aku melamar orang yang tengah
masyhuk dalam hubungan bersama orang lain. Kau tahu, separuh hatiku
tak akan pernah kembali. Menghilang sempurna lalu tenggelam dalam
pergantian waktu bersamamu, meskipun kini kau mendekap erat
dibelakangku atas nama keadaan yang entah tak bisaku mengerti.
“Mercusuar, kita sudah sampai
mercusuar” ucapku.
Engkau beranjak turun, melepas helm,
dan sekonyong-konyong memelukku yang tak siap. Hey, apa-apaan ini?
“Aku ingin meminta lagi setengah
hatimu yang tersisa”
“Sudah habiskah setengah hatiku yang
lalu? Sehingga aku harus memberimu setengahnya?”
“Aku ingin memberinya untuk orang
lain”ucapmu sembari mengelus perutmu
“Kenapa?”
“Karena aku berjanji akan memberi
seluruh hatiku untukmu”
“Kenapa harus aku, dan sekarang?”
“Diam dan rasakanlah”
Segera, ciumanmu membungkam mulutku.
Membuatku kelu tak mampu berkata setelahnya.
“Kau tahu, aku mencintai caramu
mencintaiku”
“Hanya itu?”
“Ya”
“Ooo..”
“Dan kamu tahu, betapa
tergerusnya hati, saat herus menjalani hubungan dengan kepalsuan?
Karena sebenarnya aku pegang erat separuh hatimu. Aku pakai segala
topeng, hanya sekedar untuk belajar melupakan bahwa sebenarnya aku
membawa pergi setengah hati, entahlah”
“Dan orang lain dalam perutmu, apa
yang mau kau katakan?”
“Karena aku harus membuktikan bahwa
selamanya topeng itu akan aku kenakan bersamanya”
“Kenapa harus aku, dan sekarang?"
Segera, ciumanmu membungkam mulutku.
Membuatku kelu tak mampu berkata setelahnya.
“Karena aku ingin menukar setengah
hatimu dengan seluruh hatiku!”
Mau mengambil apa lagi? Jika setengah
hatiku saja sudah kau bawa pergi, entah ingat atau tidak dimana
tempat menyimpannya. Kalau kita hidup dengan masing-masing setengah
hati, dan terus saja berkurang jika ada seseorang yang datang, bisa
jadi kedatanganmu yang kedua ini pasti bertujuan satu: menghabisi
hati yang tersisa. Entahlah

No comments:
Post a Comment