Tuesday, July 15, 2014

Setengah Hati




Bisakah kamu hidup setengah hati?


Mau mengambil apa lagi? Jika setengah hatiku saja sudah kau bawa pergi, entah ingat atau tidak dimana tempat menyimpannya. Kalau kita hidup dengan masing-masing setengah hati, dan terus saja berkurang jika ada seseorang yang datang, bisa jadi kedatanganmu yang kedua ini pasti bertujuan satu: menghabisi hati yang tersisa.

Hari ini Engkau datang dengan wajah sendu, beberapa bulir air mata menetes dari sudut mata itu. Mata yang dulu selalu aku tatap, yang meneduhkan dikala segala penat membuncah memenuhi kepala. Tapi mata itu kini sayu, memang tak ada lagi kantong hitam dibawahnya, tapi sesuatu hal yang tak kunjung baik pasti menghampirimu pada beberapa masa ini, entahlah aku seperti menjadi rumah abadi bagi segala dukamu. Tempat pulang untuk segala tetes air mata yang jatuh itu.

“Sisakan waktu untukku hari ini!” ucapmu setengah membentak dengan suara parau.

Aku tersenyum mendapatimu. Bingung, masihkah bisa aku pergi ke luar bersamamu hari ini dengan setengah hati. Cuaca sedikit mendung, awan abu-abu menghalangi kilau keemasan dilangit, sempurna menutupi keindahan sore hari.

“Kemana kita akan pergi?”

“Ke manapun engkau mau, kau tahu perjalanan selalu menyenangkan buat kita diwaktu dulu”

“Ya, tapi itu dulu”

“Sudahlah, kau tak perlu banyak ngeles, lama-lama kau ini lebih mirip lelaki kecil yang terlalu sering bertanya: kenapa”

Ketus ucapmu membuatku terdiam. Segera, beberapa marka jalan terlahap roda-roda motor yang berputar. Engkau mendekapku erat. Terdengar beberapa isak tangismu yang bercampur terpaan deru angin di telinga. Kamu tahu, perjalanan ini tak akan mudah bagiku juga bagimu. Terlepas bahwa kita hidup di hari ini, dan kenangan hidup dimasa lalu, nyatanya kita disini tengah menghabisi segala bentuk perputaran waktu. Dan fakta bahwa hatiku tinggal separuh itu nyata, entah terpikir atau tidak olehmu.

Kita membagi jalan dan mengakhirinya dengan cara yang tidak patut untuk diingat hingga saat ini. Kau tahu, mengetahui bahwa kau terluka karenaku rasanya jauh lebih menyakitkan dari segala bentuk sumpah serapah dan makian yang terucap dari mulutmu. Gila. Kala itu tak terbesit sedikitpun untuk memikirkan akibat dari ucapanku. Aku merasa muak dengan segala sikap diammu, yang katanya bagian dari surprise kala itu. Keadaan terlanjur kalut, kita bertukar hujatan, membagi segala bentuk kata berwujud penghinaan. Tapi kau tak pernah tahu, waktu berlangsung begitu menyesakkan bagiku. Wujud cintaku terbatas dalam doa. Mau apa lagi? Aku sempat berencana langsung melamarmu dalam kurun tiga bulan terakhir ini, tapi urung. Mana mungkin aku melamar orang yang tengah masyhuk dalam hubungan bersama orang lain. Kau tahu, separuh hatiku tak akan pernah kembali. Menghilang sempurna lalu tenggelam dalam pergantian waktu bersamamu, meskipun kini kau mendekap erat dibelakangku atas nama keadaan yang entah tak bisaku mengerti.

“Mercusuar, kita sudah sampai mercusuar” ucapku.

Engkau beranjak turun, melepas helm, dan sekonyong-konyong memelukku yang tak siap. Hey, apa-apaan ini?

“Aku ingin meminta lagi setengah hatimu yang tersisa”

“Sudah habiskah setengah hatiku yang lalu? Sehingga aku harus memberimu setengahnya?”

“Aku ingin memberinya untuk orang lain”ucapmu sembari mengelus perutmu

“Kenapa?”

“Karena aku berjanji akan memberi seluruh hatiku untukmu”

“Kenapa harus aku, dan sekarang?”

“Diam dan rasakanlah”

Segera, ciumanmu membungkam mulutku. Membuatku kelu tak mampu berkata setelahnya.

“Kau tahu, aku mencintai caramu mencintaiku”

“Hanya itu?”

“Ya”

“Ooo..”

“Dan kamu tahu, betapa tergerusnya hati, saat herus menjalani hubungan dengan kepalsuan? Karena sebenarnya aku pegang erat separuh hatimu. Aku pakai segala topeng, hanya sekedar untuk belajar melupakan bahwa sebenarnya aku membawa pergi setengah hati, entahlah”


“Dan orang lain dalam perutmu, apa yang mau kau katakan?”

“Karena aku harus membuktikan bahwa selamanya topeng itu akan aku kenakan bersamanya”

“Kenapa harus aku, dan sekarang?"

Segera, ciumanmu membungkam mulutku. Membuatku kelu tak mampu berkata setelahnya.
“Karena aku ingin menukar setengah hatimu dengan seluruh hatiku!”

Mau mengambil apa lagi? Jika setengah hatiku saja sudah kau bawa pergi, entah ingat atau tidak dimana tempat menyimpannya. Kalau kita hidup dengan masing-masing setengah hati, dan terus saja berkurang jika ada seseorang yang datang, bisa jadi kedatanganmu yang kedua ini pasti bertujuan satu: menghabisi hati yang tersisa. Entahlah

No comments:

Post a Comment